Waspada akan kesalahan atribusi

oleh DR. Dwi Suryanto

 

Ketika saya mengajar di kelas in-house training, saya suka bertanya,"Bapak-bapak, produk X perusahaan Bapak nampaknya laku keras. Kira-kira apa sebabnya ya?"

Mereka terus saja menjawab dengan antusias. Misalnya karena memang teknologinya bagus, R&D nya hebat, iklannya hebat dan sebagainya.

Ketika saya tanyakan, mengapa produk tertentu mereka lesu di pasar. Mereka kemudian menjawab, "O itu karena masyarakat belum bisa mengapresiasi produk itu..." Lainnya, "pesaing kita agak kurang fair.." Lainnya, "Pemerintah harusnya lebih melindungi produk kita..." dsb.

Ada satu pola menarik. Ketika perusahaan (produk) sukses, selalu saja itukarena upaya kita. Artinya faktor internal yang berpengaruh. Begitu perusahaan mengalami kesusahan, selalu saja karena faktor lain di luar perusahaan atau diri kita.

Fenomena ini selalu saja terjadi berulang-ulang ketika saya tanyakan di berbagai perusahaan.

Ada seorang rekan kita terlambat datang di satu meeting. Keterlambatannya sudah satu jam. Ketika ia memasuki ruangan, notesnya tiba-tiba saja jatuh.

Ketika ia mencoba memungutnya kembali, kacamatanya jatuh dan pecah. Kemudian karena tergopoh-gopoh, ketika duduk, dan 'menyambar' cangkir kopi, tiba-tiba kopi tadi malah tumpah menumpahi dasinya.

Orang-orang menertawakannya. Ada yang berkomentar, "Dasar canggung pak Slamet ini…!"

Benarkah komentar itu? Mungkin ya. Tapi mungkin juga tidak. Siapa tahu pria tadi baru saja datang dari bandara dan terlambat karena pesawatnya tertunda satu jam…

 

Bisa juga ia menjatuhkan notes karena memang licin, atau menumpahkan cangkir kopi karena memang saat itu terlalu panas ketika ia memegangnya…

Inilah kecenderungan kita untuk menyalahkan orang lain karena memang dia begitu. Oleh psikolog social keadaan ini dinamai kesalahan atribusi fundamental (fundamental attribution error).

Mengapa hal itu terjadi? Ketika kita mengamati perilaku orang lain, kita cenderung hanya memfokuskan pada tindakannya. Seringkali kita melupakan konteks atau situasi ketika hal itu terjadi, padahal konteks sering kali lebih menentukan perilaku seseorang.

 

Contoh, ketika kita makan siang di warteg, kita bisa duduk jegang (kaki yang satu naik ke kursi lain) dengan santai. Saat itu tidak ada yang mengatakan tidak sopan, wong semua orang melakukannya.

Tapi ketika kita makan di restoran di hotel bintang 5, dan jegang, orang-orang akan melihat diri kita dengan sinis. Mungkin mereka berkomentar, "Dasar orang kuampung, udik, emangnya ini makan di warung mbahmu apa?"

Lihatlah konteksnya, dan ternyata perlakuan orang amat berbeda. Perhatikan juga kata "dasar" yang berarti orangnya memang begitu dari sononya.

Ketika kita ikut ujian dan menerima nilai A, apa yang terlintas di pikiran kita? "O ini karena aku memang cerdas, bakat, dan mudah ingat. Lho aku ini sering juara sejak dulu…"

Namun ketika ujian dan memperoleh nilai D, apa yang terlintas di pikiran kita? "O dasar dosennya nggak bisa ngajar. Nampang doang. Soalnya nggak ada yang di buku…Dia memang sering menyusahkan mahasiswa…"

Ketika makan siang dan harus membeli minuman, teman saya pasti memilih minuman yang ada undiannya. "Rak ya lumayan tho, siapa tahu saya dapat undian 100 juta rupiah," ungkapnya sambil dengan penuh antusias membuka tutup botol minuman. Ketika tutup botol bertuliskan, "Coba lagi," ia dengan santainya berkata, " ya nggak apa siapa tahu besok dapat…"

 

Inilah anehnya manusia. Ketika ada sesuatu yang menguntungkan, kita merasa bahwa kita lebih beruntung dari pada orang lain. Buktinya? Lihat saja orang-orang berbondong-bondong mengirim kupon undian, membeli togel, membeli lotere, padahal probabilitasnya satu dibanding puluhan juta.

Bagi saya yang tinggal di Bandung, dan melihat banjir di Jakarta, selalu terujar, "Ah, nggak mungkin rumahku kebanjiran, wong bukan Bandung Selatan…"

Jadi ketika ada bahaya, kita selalu menganggap diri kita tidak akan terkena bahaya itu. Begitu beruntung, kita merasa lebih beruntung daripada orang lain…

Mengapa itu semua terjadi? Karena kita selalu self-serving bias. Kita selalu ingin kelihatan baik. Ketika terjadi hal yang menguntungkan (perusahaan maju, nilai bagus) kita inginnya karena upaya diri kita. Ini dilakukan dalam melindungi ego kita agar kita tetap bagus di hadapan orang lain.

Ini pula yang terjadi ketika kita bekerja dalam kelompok. Selalu saja muncul orang-orang yang menganggap mereka berkontribusi lebih banyak dibanding yang lain. Jika anda melihat hal itu, santai sajalah, dan cukup katakan, "O dia lagi self-serving bias…"

Kesimpulannya, untuk mengatakan seorang jahat, buruk, baik, hebat, kita sebaiknya mempertimbangkan lingkungan yang menyertainya…

Salam

* DR. Dwi Suryanto, Ph.D adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...

 

 

The Art of Leadership

Assertive Leadership

Transformational Leadership

Leadership Coaching

Advanced Leadership

The First 90 Days

Pelatihan managing Emotion under pressure

Effective School Leadership

Managing Emotions

pelatihan executive coaching  

Executive Coaching

 

 

Jadwal Pelatihan yang Akan Datang

Tanggal 4 - 5 Juni 2015

* Transformational Leadership
* Exceptional Service
* Executive Coaching
* Competency Based HRM
* Kiat & Strategi Persiapan Pensiun
* How to Get Ideas
* Successful Project Management
* People Management Skill for New Supervisor & Team Leader
* Handling Sales Objections Effectively

Tanggal 9 - 10 Juni 2015

* Effective H.R Transformation

* Accurate Problem Solving & Decision Making
* How To Lead A Team
* How to Read & Understand Financial Statements
* Marketing Metrics
* How to Communicate with Tact & Professionalism
* Managing Emotions Under Pressure
* The First 90 Days
* Effective Succession Planning

Tanggal 11 - 12 Juni 2015

* Membangun Karisma agar Anda Lebih Sukses - Charismatic Leadership
* E.Q Interview
* DNA Of Success
* Finance & Accounting for Non-Financial Managers
* The Secret Selling to the Subconscious mind
* Effective Training forTrainer
* Effective Internal Audit
* Getting Things Done Without Worry
* Writing Skill For Executive Assistant

Tanggal 16 - 17 Juni 2015

* Leadership Coaching
* Customer Service Skill
* Making Transition from Staff to Supervisor
* Financial Statement Fraud
* How to Bargain & Negotiate
* Sales Planning & Management Marketing
* Fundamentals of Human Resources Management
* Media Handling & Communication Skill
* Time & Stress Management
* Manajemen Keskretariatan & Kearsipan

Tanggal 18 - 19 Juni 2015

* Crisis Management
* The Art Of Leadership
* H.R Assistant
* Why People Buy
* Best Practices of Cost Reduction & Cost Control
* How to Deliver Exceptional Customer Service
* Communication Skill
* How to Deal With Unacceptbale Behavior
* Getting Results Without Authority

Tanggal 23 - 24 Juni 2015

* The Ultimate Supervisor
* The Science of Influence
* Contract Drafting & Negotiation Skill
* Strategic Planning For Non-Profit
* Difficult Conversation
* Appreciative Inquiry for Change Management
* Managing Your Boss
*Creative Thinking & Decision Making
* Improving Your Managerial Effectiveness

Tanggal 25 - 26 Juni 2015

* Assertive Leadership
* Appreciative Leadership
* Corporate Social Responsibility
* Selling With Emotional Intelligent
* Body Language
* Effective Decision Making
* Strategic Human Resources Management
* Pajak Penghasilan Pegawai
* Malcolm Baldridge
* Knowledge Management
 

 

pelatihan manajemen krisis

Crisis Management

pelatihan memimpin tim

How to Lead a Team